dilihat 176 kali

KAPOLDA SUMUT DAN KAPOLRES SAMOSIR DIMINTA TUNTASKAN KASUS PEMBUNUHAN

TARGET24JAMNEWS.COM  |  MEDAN — Hampir tiga tahun lamanya sejak 23 Oktober 2015 lalu, kasus pembunuhan dan mutilasi terhadap Feri Wijaya (23) seorang mandor di PT. Toba Pulp Lestari (TPL) belum dapat terungkap. Hal tersebut diungkapkan salah seorang kerabat keluarga saat dihubungi, Kamis (6/9/2018). Juru bicara keluarga, R.Sijabat mengatakan bahwa kasus ini sudah sangat lama tidak diungkap, sejak masa kepemimpinan Kapolres Samosir AKBP.Eko Suprihanto berganti ke AKBP. Donald Simanjuntak dan saat ini  AKBP Agus Darojat, SIK. 

“Kasus ini sepertinya kabur, dan nggak pernah terungkap. Kita prihatin lihat kondisi polisi di Samosir, tidak pernah beritahu kepada kita keluarga sampai dimana kasus ini bergulir. Saya ingat perkataan bapak Kapolri, kalau ada kasus yang belum terungkap hendaknya digantilah kapolresnya. Karena ini suatu PR bagi polisi disana,” jelas R. Sijabat kepada wartawan di Medan. 

Keluarga Korban Pembunuhan dan Mutilasi di Tele Pertanyakan Kinerja Polres Samosir

“Kami keluarga besar Feri Wijaya mendesak Kapolda Sumatera Utara agar segera menangani perkara pembunuhan saudara kami sampai terang benderang. Tolonglah kami pak Kapolda, karena kami juga masyarakat yang meminta keadilan atas kematian saudara kami itu,” tegas Sijabat. 

Lebih lanjut katanya, Polres Samosir seharusnya berkoordinasi sebelumnya dengan Mabes Polri untuk melengkapi peralatan penyelidikan pembunuhan jika dirasa tidak mampu, dan itupun dilakukan pada masa Kapolres terdahulu masa kepemimpinan AKBP. Eko.

“Sewaktu dibunuh saudara kami Feri, hendaknya polres Samosir itu jangan andalkan kemampuan sendiri untuk mengungkapnya, dan akhirnya berdampak lama dalam pengungkapan. Peralatan jauh lebih canggih di mabes Polri dalam mengungkap kasus pembunuhan. Saya katakan lambat, karena handphone milik korban itu ditemukan setahun sejak kasus pembunuhan terjadi, dan itupun karena pada masa kapolersnya pak Donald Simanjuntak yang mencoba mengungkapnya lagi. Dan, saat ini kita belum tau bagaimana perkembangan atas kasus ini, disamping surat pemberitahuan hasil penyelidikan kepolisian tidak diserahkan pada kami keluarga Feri”, ucapnya.

Keluarga besar Feri Wijaya meminta Kapolri dan Presiden Joko Widodo mendengarkan pengaduan atas kematian tragis saudaranya. 

“Kita minta kepada bapak Presiden RI dan Bapak Kapolri pada siaran berita ini, untuk mengungkap sejelas-jelasnya atas kasus pembunuhan saudara kami. Kami menduga kasus ini seperti dipeti es kan, dan surat pemberitahuan penyelidikan kepolisian belum ada kita terima, dan kita minta kepada bapak Kapolri bertindak tegaslah atas kasus yang mangkrak seperti ini. Kami anggap yang bertanggungjawab untuk pengusutannya adalah Polres Samosir,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, kasus sejak lama tidak pernah terungkap oleh pihak Polres Samosir. Kala itu, Kapolres Samosir AKBP. Donald Simanjuntak berjanji mengungkap kasus ini cepat, namun menemui jalan buntu usai keberhasilannya menemukan telefon genggam milik korban. 

Feri Wijaya yang merupakan keturunan berdarah Tionghoa dan  Batak,  ditemukan tewas pada usia 23 tahun di Hutan Tanaman Industri (HTI) milik PT.Toba Pulp Lestari, tepatnya di hutan Tele, Jumat 23 Oktober 2015, dalam kondisi sangat mengenaskan dengan keadaan  membusuk, kepala putus dan bercerai dari badan, kedua tangan hilang, serta tubuh penuh luka sayatan. Barang-barang milik korban seperti sepeda motor, dompet dan handphone tidak ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP).  (RED/TIM). 

Bagikan berita ini

Mungkin Anda Menyukai