BISNIS MESUM BERKEDOK PIJAT REFLEKSI MARAK DI MEDAN AREA

TARGET24JAMNEWS.COM  |  MEDAN — Praktek prostitusi berkedok pijat refleksi makin menjamur di Medan. Praktek prostitusi berkedok pijat refleksi/ lulur, salon dan spa bukan rahasia umum lagi di Medan. Di kota ini geliat terduga sebagai lokasi pelacuran terselubung tersebut semakin bertebaran di sejumlah tempat.

Beberapa tahun belakangan, bisnis esek-esek ini semakin bertumbuh pesat di Medan, bak jamur di musim penghujan. Mirisnya, keberadaan mereka terkesan dilegalkan, dan disinyalir jadi ‘tabungan’ berjalan bagi pemerintah dan aparat setempat. 

Amatan awak media www.target24jamnews.com dibeberapa salon, spa dan panti pijat yang kedok prostitusi tersebar di sejumlah wilayah kota Medan, seperti di kawasan Medan Area, Medan Tembung dan Medan Kota.

Hasil penelusuran, hanya 10 dari 100 persen lokasi panti pijat dan spa yang tak menyediakan layanan plus-plus.

“Kalau dilihat sepintas dari luar merk namanya untuk lokasi refleksi keluarga atau kesehatan, tapi nyatanya didalam kita disuguhi yang gituan” ujar Samsul (28) bukan nama sebenarnya wartawan, yang mengaku sering mengunjungi salon, pijat refleksi/ lulur, salon dan spa plus-plus, Minggu (17/2).

Dia memaparkan, sebagian salon, pijat refleksi/ lulur dan spa nyata-nyata menawarkan layanan plus-plus.

“Ada juga diantara lokasi seperti gitu, pihak penyedia menawarkan perempuan untuk begituan. Kita tinggal pilih perempuan sesuai yang kita suka untuk melayani,” terangnya.

Tapi ada pula salon, pijat refleksi/ lulur atau spa yang membungkus layanan plus-plus itu dengan paket yang sama sekali tidak menunjukkan adanya praktik prostitusi. Tapi, tetap saja transaksi seks dapat berlangsung mengiringi paket-paket itu.

Menurut dia, praktik pelacuran ini tidak berbeda dengan di tempat lain. Hanya, kemasannya dibuat legal. Mereka menawarkan satu paket servis sampai full service.

“Biasanya paket mereka yang full service itu hanya sampai pemijatan alat vital, kita dion**i. Biar mereka aman, untuk begituan, tidak ada yang namanya menjual perempuan. Kita dibiarkan negosiasi dengan perempuan yang namanya terapis itu. Sebenarnya ya prostitusi, cuma kalau di salon dan spa plus-plus itu istilah untuk orang yang melayani disebut terapis, padahal praktiknya ya PSK,” beber Samsul.

Harga yang harus dibayar pengguna jasa bergantung pada salon, panti pijat atau spa. Semakin besar nama dan mewah fasilitasnya, maka harganya pun semakin mahal.

Biaya ini, biasanya sudah ditetapkan salon, pijat refleksi/ lulur, dan spa. Untuk dilayani sesuai paket yang disediakan, pengunjung umumnya harus membayar Rp 50.000 ribu sampai Rp 300.000 ribu.

“Kita berharap pihak kepolisian dan pemerintah setempat menkaji ulang perizinannya. Jika terbukti, pemerintah harus berani tegas untuk menutupnya,” pungkasnya. (RED/HUM/TIM). 

 

 

Bagikan berita ini