Dampak Perang Dagang AS – Tiongkok Terhadap Sumatera

TARGET24JAMNEWS.COM || KARO – Dampak perang dagang Amerika Serikat terhadap Tiongkok secara ekonomi minyak Indonesia mengalami peningkatan harga yang semakin bagus, tapi di sisi komoditi yang lain sepertinya belum terjadi Rekafre.

Demikian di sampaikan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat di dampingi Deputy Direktur Demina R Sitepu dan Asisten Direktur Divisi Sistem Penbayaran Achmad Darimy di sela – sela acara Pelatihan Wartawan Ekonomi Medan dan Gathering di Taman Simalem Resort kamis (26/9/2019) Kabupaten Karo.

Mengapa hal ini dampaknya ke Indonesia, karena negara – negara ini merupakan pasar ekspor untuk komuditi kita dan China merupakan pasar ekspor Negara kita yang terbesar seperti Batu Bara dan Sawit, jelas Wiwiek.

Ekspor utama Tiongkok ke Amerika yang terkena kebijakan Perang Dagang sebagian besar berupa Produk dalam bentuk barang setengah jadi dan barang jadi, sementara Komuditi ekspor terbesar Tiongkok dan Indonesia ke Amerika Serikat menunjukan bahwa Sumatera sulit untuk mengambil peluang ini karena untuk produk sejenis sangat minim hanya sebesar US 354,5 atau 1,4% dari total ekspor, sementara ke Amerika mayoritas berupa peralatan Elektronik seperti Kabel dan eguipmen.

Berdasarkan keputusan rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 – 19 September 2019 yang lalu fokus dengan kebijakan :
1. Konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah di bawah titik tengah sasaran dan Imbal hasil Investasi aset Keuangan Domestik yang tetap menarik serta sebagai langkah Pre-emptive untuk mendorong momentum Pertumbuhan Ekonomi Domestik di tengah Kondisi Ekonomi Global yang melambat.

2. Untuk memperkuat kebijakan dalam mendorong momentum Pertumbuhan Ekonomi Bank Indonesia melakukan relaksasi Kebijakan Makro Prudensial untuk meningkatkan Kapasitas Penyaluran Kredit Perbankan dan mendorong permintaan Kredit pelaku usaha.

Relaksasi di tempuh melalui penyempurnaan pengaturan Rasio Intermediasi Makro Prudensial (RIM), RIM Syariah dan pelonggaran Rasio untuk pembiayaan Properti sebesar 5% dan uang muka untuk kendaraan bermotor.

3. Strategi Operasi Moneter di perkuat untuk mendukung upaya menjaga kecukupan Likuiditas dan meningkatkan efisiensi pasar uang sehingga meningkatkan dan memperkuat Transmisi kebijakan yang Akomodatif. Instrumen Operasi Moneter pasar terbuka (OPT) di seragamkan melalui Implemensi reverse rapo surat berharga Negara (PR SBU) tenor mulai 7 hari hingga 12 bulan termasuk melaksanakan lelang DR SBN tenor 12 bulan menggantikan SBI tenor 12 bulan terhitung 4 Oktober 2019.

4. Kedepan BI akan melanjutkan bauran kebijakan yang akomodatif sejalan dengan rendahnya prakiraan Inflasi, terjaganya Stabilitas Eksternal dan perlunya terus mendorong momentum pertumbuhan Ekonomi.

5. Koordinasi BI dengan pemerintah dan otoritas terkait terus di perkuat untuk mempertahankan Stabilitas Ekonomi, mendorong permintaan Domestik, serta meningkatkan Ekspor Pariwisata dan aliran masuk modak asing termasuk Penanaman Modal Asing (PMA). (Ss)

Bagikan berita ini