Detik-detik Ngabalin Marah saat Debat dengan Fadli Zon – Mahendradatta, Hingga Neno Warisman Keluar

TARGET24JAMNEWS.COM  |  JAKARTA — Debat panas terjadi antara Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin versus Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dan juga Kuasa Hukum Neno Warisman, Mahendradatta, pada Rabu (29/8/2018) malam.

Mereka dihadirkan sebagai narasumber dalam acara Talk Show Dua Sisi yang bertemakan “Kebebasan Berpendapat Berujung Persekusi” yang ditayangkan di salah satu televisi swasta.

Selain Ali Mochtar Ngabalin dan Fadli Zon, Sekjen PPP Asrul Sani dan Neno Warisman juga turut hadir.

Perdebatan sudah mulai tampak panas saat tokoh gerakan deklarasi #2019GantiPresiden, Neno Warisman, mengatakan jika deklarasi tersebut bukan berasal dari unsur politik.

Sekjen PPP Asrul Sani pun langsung menanggapi pernyataan Neno Warisman tersebut.

“Yang ingin saya sampaikan, kalau menanggapi Mba Neno yang bukan politik (Gerakan 2019 Ganti Presiden), tone-nya tone agama, pendidikan, ibu-ibu, dan lain sebagainya.

Kita kan sama-sama muslim, saya gak tahu nih apakah Mba Neno setelah mengalami kejadian ini (pengadangan deklarasi) ada muhasabahnya enggak? Kenapa kok saya mengalami ini? Ada yang salah enggak pada diri saya? Introspeksinya itu penting. Karena memang, kalau memang kita angkat ini dalam demokrasi jelas ada hak.

Tapi kemudian hak ini dilaksanakan bukan dalam ruang yang kosong, karna begitu banyak elemen-elemen masyarakat yang berbeda dengan posisi-posisi kita maka kemudian terjadilah istilah dialektika ada aksi ada reaksi kemudian menimbulkan sebuah sintesa.

“Saya ingin mengutip tweetnya Profesor Jimly, jadi ada tagar 2019 ganti presiden oke saja sebagai hak demokrasi. Persoalannya itu timbul ketika itu dibawa ke sebuah ruang publik yang melibatkan banyak konstentrasi massa dan di dalamnya itu diisi apa yang prof Jimly sebutkan ada konten-konten kebencian,” ujar Asrul Sani.

Belum selesai meneruskan bicara, Fadli Zon pun memotong perkataan Asrul Sani.

“Kebenciannya itu apa? Ini deklarasi, pernyataan publik dan ini bukan di ruang kosong, semuanya di ruang publik,” kata Fadli Zon.

Ali Mochtar Ngabalin turut menyahut perkataan dari Fadli Zon dengan suara tertawa di awal pernyataannya.

“Haha ruang publik saya catat, ruang publik, haha,” sahut Ali Ngabalin.

“Betul di dalam ruang publik tapi misalnya ada juga kata-kata bohong, antek asing, itu kan,” jawab Asrul

“Siapa yang mengatakan itu? Bu Neno?,” sahut Fadli kembali.

“Kan saya tidak mengatakan bu Neno, yang ingin saya sampaikan adalah adanya introspeksi kemudian itu terjadi,” Asrul kembali menjawab.

“Berapa orang sih yang menolak, paling cuman berapa puluh orang, Anda setuju enggak? Anda setuju dengan persekusi Bu Neno?” tanya Fadli Zon.

Ali Ngabalin pun kembali angkat bicara dengan mengatakan jika persekusi itu dilakukan oleh kepolisian, sehingga Fadli dianggap menghina kepolisian.

“Begini saya jawab, yang Anda mau tuduh itu Kombes Sunarto, polisi Riau dan polisi Indonesia telah melakukan persekusi, itu tadi Anda bilang “polisi biadab”, kau yang bilang “polisi biadab”, Fadli kau yang bilang “polisi biadab”,” ujar Ngabalin berulang kali.

Perdebatan pun semakin sengit di antara para narasumber.(trime/am)

 

Bagikan berita ini