dilihat 132 kali

EDEN MANALU LAPORKAN MANTAN MERTUANYA KE POLISI, INI PENYEBABNYA…

TARGET24JAMNEWS.COM  |  MEDAN — Usai bercerai dengan istrinya tahun 2017 yang lalu, Eden Manalu warga jalan Pabrik Tenun gang Bersama no 2 mengaku meradang karena tak diberikan haknya sebagai ayah biologis dari anaknya berinisial YGM(9) untuk bertemu bahkan melihat semenitpun anak ketiganya itu.

Eden Manalu melalui kuasa hukumnya Nasib Maringan Silaban SH, pada awak media yang ditemui usai membuat laporan mengatakan bahwa kliennya merasa dirampas haknya sebagai ayah kandung dari YGM untuk bertemu bahkan melihat anaknya itu oleh mantan ibu mertuanya.

“Klien kami merasa keberatan dan dirugikan karena telah dirampas haknya sebagai ayah biologis untuk bertemu anaknya walaupun berdasarkan putusan pengadilan negeri Medan  tertanggal 21Juni 2015 no 45/Pdt.G/2015/PN Medan dan putusan pengadilan tinggi Medan tertanggal 22 Maret 2016 No 418/PDT/2015/PT Medan serta dikuatkan dengan putusan Mahkamah Agung yang telah berkekuatan hukum tetap dengan putusan tertanggal 19 Mei 2017 no 418 K/PDT/2017 yang intinya anak kandung dari pelapor berinisial RE Br Sianipar  yang bernama SWM,CBM dan YGM diserahkan pada tergugat ( Eden Manalu ),” jelas N.M Silaban.

Lanjutnya lagi, sejak bulan April 2015 sampai dengan di laporkan yang kasus ini pada Polrestabes Medan tanggal 14/9/2018 jam 18:00 WIB berada di rumah ibu mertuanya yang berinisial BS, warga jalan Belanga no 27 kelurahan Sei Putih Tengah, kecamatan Medan Petisah dan klien kami sama sekali tidak diberikan haknya untuk berkumpul dan berkomunikasi dengan anak kandungnya itu bahkan klien kami telah berusaha mendatangi rumah ibu mertua tapi hasilnya malah di ajak berkelahi oleh ibu mertuanya.

“Akibat dari hal itu klien kami merasa terganggu jiwanya karena secara terus -menerus merasakan kesedihan yang sangat mendalam, abang tengoklah tadi kan buat laporan aja klien kami ini nangis tak berhenti-berhenti padahal dia seorang ayah. Untuk itulah kami melaporkan mantan ibu mertuanya itu ke Polrestabes Medan dengan nomor STTLP/2002/Ke/IX/2018SPKT Restabes Medan dengan tuduhan pasal 330 KUHPidana dengan ancaman maksimal 7 tahun penjara,” pungkas N.M Silaban. (RED/HUM). 

Bagikan berita ini

Mungkin Anda Menyukai