Gereja di Korea Tolak Aborsi dan Hukuman Mati

TARGET24JAMNEWS.COM  |  SEOUL — Uskup Agung Seoul menegaskan kembali sikap Gereja Katolik yang sangat mendukung hak untuk hidup dari setiap individu di tengah upaya anggota parlemen Korea Selatan bersiap-siap membuat keputusan penting tentang aborsi dan hukuman mati.

Kardinal Andrew Yeom Soo-jung mengatakan kepada kelompok anak muda Pro-Life  di Seoul pada 16 Maret bahwa kehidupan manusia itu mulia, terhormat, dan bermartabat sudah sejak saat pembuahan.

“Yang harus kita lakukan adalah menerima setiap kehidupan dari saat pembuahan di bawah tanggung jawab ayah dan ibu. Selain itu, mengingat bahwa setiap kehidupan berada di bawah tanggung jawab bersama masyarakat kita, kita harus berusaha meningkatkan kesejahteraan sosial secara keseluruhan untuk mendukung orang tua melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka. “

Sekitar 1.000 pemuda Korea dan pemimpin gereja, termasuk Uskup Agung Alfred Xuereb, nuncio apostolik Korea, mengambil bagian dalam rapat umum yang diselenggarakan oleh Komite Keluarga dan Kehidupan Konferensi Waligereja Korea (CBCK) yang bekerja sama dengan Komite Penyelenggara Aksi untuk Kehidupan di  Korea.

Pada 14 Maret, pada Misa musim semi untuk anggota kongres beragama Katolik, Kardinal Yeom sekali lagi menekankan doktrin Gereja tentang pro-kehidupan.

“Bayi sejak dalam bentuk embrio harus dilindungi dan dihormati sebagai makhluk mandir dan tidak dianggap sebagai milik ibu atau ayah. Martabat manusia tidak dapat diputuskan dengan suara terbanyak atau dinilai dengan standar sosial ekonomi, ” katanya.

Kardinal berusia 75 tahun itu juga berbicara tentang hukuman mati, merujuk pada pesan Paus Fransiskus dalam Kongres Dunia menentang hukuman mati pada bulan Februari.

“Kehidupan manusia adalah karunia yang paling penting dan mendasar, yang merupakan sumber dari semua hak asasi manusia. Hukuman mati adalah penghinaan dan dosa serius terhadap hak dasar hidup bagi semua orang. Saya mendesak semua pemimpin politik dan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah menghapuskan hukuman mati di masing-masing negara,” kata Kardinal Yeom.

Pada tahun 1996 dan 2010, Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa hukuman mati tidak melanggar konstitusi Korea Selatan. CBCK mengajukan banding pada bulan Februari yang menyerukan penghapusan hukuman mati dan hingga kini masih menunggu keputusan pengadilan.

Sementara Mahkamah Konstitusi juga diperkirakan akan mengumumkan keputusannya tentang konstitusionalitas undang-undang aborsi pada awal April, suara-suara yang mendukung melegalkannya semakin meningkat.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Korea pada 15 Maret mengajukan pernyataan kepada pengadilan yang mengatakan bahwa hukuman pidana bagi wanita yang melakukan aborsi, serta dokter yang melakukannya, tidak konstitusional.

Dikatakan bahwa hukum saat ini tentang aborsi melanggar hak untuk menentukan nasib sendiri. (RED/UCAN). 

Bagikan berita ini