Hasil RAPID TEST Bermasalah, Puluhan Penumpang Penyeberangan Kapal Terlantar di Pelabuhan Cabang PELINDO Sibolga.

TARGET24JAMNEWS.COM || SIBOLGA – Puluhan calon penumpang penyeberangan kapal bertujuan pelabuhan gunung sitoli terlantar dipelabuhan cabang pelindo sibolga, dikarnakan surat keterangan hasil rapid test yang mereka miliki dinyatakan tidak sah oleh petugas gugus Covid-19 di pelabuhan cabang pelindo sibolga.

Peristiwa terjadi pada hari jumat (26/6/2020) malam, saat tim gugus tugas melakukan pemeriksaan kesehatan dan dokument calon penumpang sebagai syarat untuk diizinkan menaiki kapal.

Dari pemeriksaan gugus tugas Covid-19 dipelabuhan cabang pelindo sibolga menolak hasil keterangan rapid test dari rumah sakit umum daerah (RSUD) pandan diduga ilegal.

Akibat keputusan tersebut, semua calon penumpang penyeberangan kapal bertujuan pelabuhan gunung sitoli merasa dirugikan dan mereka memperdebatkan kepada petugas.

Salah seorang calon penumpang yang tidak mau disebutkan namanya disaat kami konfirmasi mengatakan, ia sangat kecewa karena terpaksa harus bermalam dikota sibolga dengan bekal uang pas-pasan.

Sementara, ia bersama dua belas orang anggota keluarganya harus segera berangkat ke nias, untuk keperluan melayat ibunya yang meninggal dunia.

Selain itu calon penumpang yang tidak mau disebutkan namanya mengaku telah mengeluarkan uang banyak untuk pengurusan surat keterangan rapid test dari RSUD Pandan, kabupaten tapanuli tengah (Tapteng).

Dikarenakan saat akan mengurus surat keterangan rapid test, pihak RSUD Pandan yang diduga ilegal meminta Rp.250000 per orang.

Saya bayar 250ribu di RSUD Pandan, ini tidak tau mau nginap dimana, soalnya taulah pekerjaan buruh kasar ini,” ucap calon penumpang tersebut, dipelabuhan cabang pelindo I sibolga.

Begitu juga penumpang yang lain sangat kecewa dan sangat merugikan mereka.

Ditemui dilokasi sama koordinator kepala kesehatan pelabuhan Sibolga, Edison Gultom menjelaskan alasan penolakan itu dikarenakan tim verifikasi tidak menemukan adanya nomor surat pada surat keterangan yang dikeluarkan oleh dokter rumah sakit umum daerah pandan atau puskesmas.

Tidak ada nomor surat rapid testnya, harusnya surat itu ada nomor dari laboratorium,” ujar Edison .(RISMAN)

Bagikan berita ini