IPW KRITISI POLISI TERKAIT KASUS KEMATIAN SUPORTER SEPAK BOLA

TARGET24JAMNEWS.COM  |  JAKARTA — Presidium Indonesia Police Watch (IPW) prihatin melihat melonjaknya angka kematian suporter sepakbola di negeri ini, dimana kenaikannya hampir 100 persen di tahun 2018. Di tahun 2017 hanya ada 9 suporter yang tewas, dan di tahun 2018 melonjak menjadi 17 suporter tewas. Sebab itu jika Liga 1 memang hendak digulirkan lagi akhir minggu ini, harus ada jaminan dari Polri bahwa aparaturnya mampu bekerja profesional dalam menjaga dan mengamankan pertandingan sepakbola. 

Neta menyampaikan, jika tidak ada jaminan dari Polri, sepakbola akan tidak terkendali dan akan menjadi ajang pembantaian anak manusia.

“Sebab apa yang terjadi di Bandung pada bulan lalu dimana suporter Persija tewas dikroyok suporter Persib adalah gambaran kelengahan dan kecerobohan polisi. Aksi pengeroyokan itu terjadi di sekitar stadion dan sebelumnya disebut sebut ada sekelompok orang yang melakukan swepping. Lalu kenapa Polrestabes Bandung sebagai penanggungjawab keamanan tidak mengantisipasinya. Kemana polisi saat pengeroyokan terjadi di sekitar stadion. Akibat peristiwa ini Liga 1 dihentikan sementara,” ujar Neta. 

Hasil gambar untuk kematian suporter
ilustrasi gambar

Neta menegaskan bahwa cara kerja kepolisian dalam mengamankan pertandingan sepakbola selama ini perlu dievaluasi. Sebab sejak tiga tahun terakhir angka kematian suporter terus meningkat, baik di dalam stadion maupun di sekitar stadion ataupun di luar stadion.

“Tahun 2016 misalnya ada 6 suporter tewas, lima dikroyok dan satu kecelakaan lalulintas. Tahun 2017 naik, ada 9 tewas, yang 6 di antaranya dikeroyok, dua jatuh di stadion dan 1 kecelakaan lalin. Tahun 2018 melonjak, ada 17 suporter tewas yang 6 di antaranya dikeroyok dan 9 kecelakaan lalin dan 2 lainnya jatuh di stadion,” kata Neta.

Lebih lanjut kata Neta, melihat data data ini semakin nyata pertandingan sepakbola akan menjadi mesin pembunuh, terutama jika jajaran Polri tidak bekerja profesional dalam menjaga keamanan di setiap pertandingan. Dengan terlibatnya Polri melalui PS Bhayangkara dalam Liga 1 seharusnya even sepakbola bisa lebih aman dan aparatur kepolisian bisa lebih profesional dalam menjaga even even Liga Indonesia, dan bukannya jumlah korban tewas melonjak hampir 100 persen di tahun 2018 ini.

“Untuk itu, jika belum ada jaminan dari Polri sebaiknya even Liga 1 jangan digelar dulu. Bagaimana pun jajaran kepolisian tidak bisa menyalahkan panitia, jika terjadi masalah keamanan, karena tanggungjawab keamanan menjadi wewenang kepolisian. Jika situasinya memang tidak memungkinkan, kepolisian punya wewenang untuk menunda atau memindahkan pertandingan tersebut agar tidak jatuh korban tewas dalam setiap pertandingan sepakbola,” harap Neta pada siaran persnya, Kamis (4/10). (RED/IPW). 

Bagikan berita ini