Kunjungan PM Baru Australia ke Indonesia Dinilai Sukses

TARGET24JAMNEWS.COM | CANBERRA — Scott Morrison yang baru saja terpilih sebagai perdana menteri Australia belum lama ini mengunggah foto pin bendera Australia yang dikenakannya. Dia mengaku akan memakai pin itu setiap hari sebagai pengingat dengan siapa dia berpihak.

Barangkali puluhan anak sekolah Indonesia yang melambaikan bendera Australia dengan antusias saat dia berada di Istana Kepresidenan RI di Jakarta pekan lalu, juga menjadi pengingat bagi PM Morrison. Kunjungan kenegaraan pertamanya sebagai Perdana Menteri Australia telah berlangsung sukses.

Selama kunjungan itu dia tampak santai dan percaya diri. Hal itu terjadi baik pada saat menemui murid-murid di sekolah yang dibantu Australia, maupun ketika ngobrol dengan Presiden Jokowi.

Sumber ABC menjelaskan bahwa persiapan kunjungan itu sangat mendadak, bahkan sampai saat rombongan menaiki pesawat RAAF. Pasalnya, hal itu dilakukan tak lama setelah apa yang disebut mantan PM Malcolm Turnbull sebagai “huru-hara” yang menjadikan Morrison sebagai perdana menteri baru.

Kunjungannya ke sekolah di Jawa Barat, misalnya, baru dijadwalkan tim Kedutaan Besar Australia di Jakarta beberapa jam sebelumnya. Bahkan beberapa menit sebelum PM Morrison tiba, seorang guru terlihat masih membersihkan plakat sekolah yang sudah tampak usang.

Ketika jurnalis Australia Brett Mason menanyai kepala sekolah tentang kunjungan PM Morrison, dia menjawab, “Kaget, sangat kaget. Tapi kami bangga.”

Rasa kaget atas kunjungan PM Morrison ini konon juga dirasakan Presiden Jokowi sendiri. Kabarnya Presiden Jokowi memang telah mempersiapkan karpet merah untuk perdana menteri Australia yang juga teman baiknya, Malcolm Turnbull. Namun, yang datang ke Jakarta dalam kunjungan yang sudah terjadwalkan tersebut justru perdana menteri baru, Scott Morrison.

Bagaimanapun, kunjungan tersebut berjalan tanpa hambatan. Kedua pemimpin sepakat bahwa “kemitraan ekonomi” yang dibahas selama delapan tahun, akan mengurangi atau menghapuskan 99 persen tarif perdagangan antara kedua negara. Kesepakatan ini akan ditandatangani pada akhir tahun 2018.

PM Morrison tidak mau mengklaim hal itu sebagai karyanya. Dia malah menyebut nama Malcolm Turnbull, mantan Menlu Julie Bishop, dan mantan Menteri Perdagangan Steve Ciobo, sebagai peletak dasar kesepakatan. Menurut dia, itu merupakan perjanjian penting dan paling ambisius bagi Indonesia.

Melengkapi kesepakatan ini, kedua pemimpin juga sepakat untuk meningkatkan hubungan diplomatik melalui “kemitraan strategis komprehensif”. Intinya akan menempatkan Jakarta selevel dengan Beijing dalam peringkat hubungan Australia dengan negara lain.

Australia berupaya menjali hubungan lebih dekat dengan India dan Vietnam, serta beberapa negara Pasifik, karena kekhawatiran akan meningkatnya pengaruh Cina. Namun bukan berarti Cina disebutkan dalam deklarasi empat halaman yang disepakati kedua pemimpin.

PM Morrison tak ingin terseret ke dalam kekhawatiran di kalangan pejabat keamanan dan diplomatik mengenai agenda ekspansionis Beijing dan militerisasi Laut Cina Selatan. “Menjadikan suatu hubungan lebih kuat, tidak harus menjadikan hubungan lainnya lebih lemah,” kata PM Morrison.

Dalam jamuan dengan kalangan bisnis di Jakarta PM Morrison menyatakan bahwa Australia akan “memperdalam” kemitraan strategisnya dengan Cina. Artinya, jika dia khawatir, tentu dia tidak akan menyampaikan hal seperti itu.

Tentu saja akan jadi kesalahan fatal bagi PM Morrison jika mengacaukan kunjungan ini, setelah hubungan baik dibangun bertahun-tahun oleh PM Turnbull serta negosiasi oleh menteri perdagangan dan menteri luar negerinya.

Pada pengamat hubungan Indo-Australia, dari kedua negara, akan mengakui “hubungan istimewa” antara PM Turnbull dan Presiden Jokowi. Hal itu karena terjalin setelah titik-rendah hubungan di bawah Pemerintahan PM Tony Abbott.

Di Indonesia, seperti halnya di banyak negara, jika hubungan pribadi telah terjalin, maka urusan diplomasi pun akan berjalan lancar. Dalam hal itu, Turnbull meninggalkan jejak yang sangat besar untuk ditapaki. Tapi setidaknya PM Morrison telah memulai langkah dengan tepat.(rep/am)

Bagikan berita ini