PAGAR TEMBOK MILIK TAMBUNAN DIHANCURKAN MAFIA TANAH

TARGET24JAM | MEDAN – Masih banyaknya Para mafia tanah bergerilya untuk merampok dan merampas tanah masyarakat di Sumatera Utara dan hukum yang diharapkan sebagai benteng keadilan buat masyarakat sudah mulai rapuh.

Tingkat kepercayaan masyarakat kepada para penegak hukum untuk menegakan kebenaran mengenai hak atas tanah hanya isapan jempol belaka.

RPM Tambunan (75) salah seorang korban mafia tanah yang tanah miliknya seluas 700 meter persegi di Jalan Bunga Rente 22, Kecamatan Simpang Selayang Medan diduga telah diklaim oleh sekelompok mafia tanah dengan menggunakan kartu tanda penduduk (KTP) bodong dengan nama orang yang fiktif dan mengaku-ngaku kalau tanah tersebut miliknya.

Menurut RPM Tambunan selaku Emeritus Bishob Gereja Methodis Indonesia (GMI) mengatakan, kalau surat keterangan hak atas tanah miliknya sudah terbit sejak 1982 atas nama istrinya, IR Tumiar Sianturi sementara pihak lain mengklim surat tanahnya yang dikekuarkan camat setempat menggunakan atas nama IR Tumiar dan tidak ada memakai Sianturi.

Terkait hal tersebut, Lembaga Bantuan Hukum Serikat Pengacara Rakyat (LBH SPR) Rinto Maha SH kepada wartawan mengatakan, akan tetap melakukan perlawanan hukum terhadap pihak-pihak yang mengaku-ngaku kalau tanah tersebut diklim miliknya dengan menggunakan diduga surat-surat palsu.

“Apalagi semua bukti-bukti dugaan palsu tersebut sudah kita laporkan ke Polda Sumut, namun laporan kami tentang dugaan pemalsuaan surat tersebut sudah di-SP3-kan oleh pihak penyidik Polda Sumut. Padahal sebelumnya Kapolda Sumut Irjen Pol Paulus Waterpauw pernah mengatakan kalau kasus tanah tersebut tidak boleh di-SP3-kan,” ucap Rinto Maha di Medan, Rabu (25/7/2018).

Rinto Maha selaku penasihat hukum dari korban RPM Tambunan mengatakan bahwa akan melaporkan aksi pengrusakan pagar tersebut ke Polda Sumut, di mana pengrusakan pagar terjadi karena pihak Polda Sumut telah menghentikan penyidikan terhadap laporan kami (SP3) tentang pemalsuaan surat-surat.

“Akibat SP3 tersebut, sehingg pihak-pihak yang lain merasa sudah menang dan merusak pagar kami,” tutur dia.

Muda juga menambahkan, dalam waktu dekat akan melaporkan kasus tersebut ke Irwasum di Mabes Polri dan Presiden Joko Widodo karena laporan dugaan pemalsuan yang kami laporkan ke Polda Sumut kenapa di SP3-kan, padahal bukti-bukti KTP bodong dan pihak – pihak yang mengkalim kalau atas nama IR Tumiar pemiliknya adalah palsu.

“Dan sampai sekarang orang yang bernama IR Tumiar tersebut tidak pernah terlihat batang hidungnya,”jelas Rinto.

Rinto Maha juga mengatakan, kalau pihak – pihak yang mengaku-ngaku kalau tanah tersebut miliknya ada dua kelompok, di mana kelompok sebelah kanan seluas 500 meter persegi mengaku milik Letkol R Silitonga dan kelompok sebelah kiri seluas 188 meter persegi mengaku milik Epidona Siregar.

“Dan terjadinya aksi pengrusakan pagar hari ini yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak dikenal diduga dua kelompok inilah dibalik itu semua,” terangnya.(Jgw)

Bagikan berita ini