PBB KECAM TINDAKAN POLISI INTEROGASI WARGA PAPUA GUNAKAN ULAR

TARGET24JAMNEWS.COM  |  JAKARTA — Penggunaan sebuah ular besar oleh polisi untuk menakut-nakuti seorang pemuda Papua selama proses interogasi merupakan indikasi dari “pola kekerasan yang meluas,” dan pelanggaran lainnya yang dilakukan terhadap orang Papua, demikian pernyataan panel ahli PBB.

Mereka menyerukan berakhirnya budaya impunitas dalam menangani pelanggaran HAM dan perlunya penuntutan terhadap siapapun yang terlibat.

Desakan itu muncul menyusul viralnya sebuah video pada awal bulan ini yang menunjukkan polisi menggunakan seekor ular untuk menakut-nakuti seorang pemuda Papua yang diborgol saat sedang diinterogasi.

Dalam video itu, pemuda itu – yang ditangkap karena diduga mencuri ponsel – terlihat berteriak ketakutan sementara petugas polisi menertawakannya.

Para panel PBB mengatakan bahwa kasus tersebut mencerminkan “pola kekerasan yang meluas, dugaan penangkapan sewenang-wenang, dan penahanan serta metode yang setara dengan penyiksaan.”

“Taktik ini sering digunakan terhadap warga asli Papua dan pembela hak asasi manusia,” kata mereka dalam sebuah pernyataan pada 21 Februari.

“Insiden terbaru ini merupakan gejala dari diskriminasi dan rasisme yang mengakar kuat yang dihadapi warga asli Papua.”

Investigasi yang cepat dan tidak memihak harus dilakukan untuk memastikan “mereka yang telah melakukan pelanggaran HAM terhadap penduduk asli Papua harus dimintai pertanggungjawaban.”

“Kami juga sangat prihatin dengan apa yang terlihat seperti budaya impunitas dan investigasi yang minim terhadap dugaan pelanggaran HAM di Papua,” kata mereka

Aktivis gereja di Papua, menyambut baik desakan ini.

Yuliana Langowuyo, wakil direktur Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan Ordo Fransiskan mengatakan bahwa pemerintah Indonesia harus segera menanggapi desakan itu.

Ia menjelaskan, interogasi dengan ular itu hanyalah satu dari banyak contoh yang menggambarkan perlakuan diskriminatif apparat keamanan terhadap orang Papua.

“Kami seringkali meminta polisi dan militer untuk menghentikan praktik semacam ini, namun tidak berhasil,” katanya kepada ucanews.com.

Pastor John Djonga, seorang aktivis hak asasi manusia yang telah bekerja selama 40 tahun di desa-desa Papua, mengatakan bahwa tindakan demikian tidak berkurang selama bertahun-tahun.

“Sepertinya tidak ada perubahan yang akan segera terjadi,” katanya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir mengatakan mereka yang bertanggung jawab atas insiden interogasi dengan ular akan diselidiki dan dihukum.

“Ini adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dan bertentangan dengan peraturan dan regulasi kepolisian sendiri,” katanya.

Ahmad Mustofa Kamal, juru bicara kepolisian di Papua tudingan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap orang Papua.

“Kami memperlakukan setiap orang Papua secara adil dan menegakkan hukum secara adil,” katanya. (UCAN/RED). 

Bagikan berita ini