dilihat 57 kali

Pilpers Dan Pilkada ‘Ladang uang’ Bagi Pembuat Berita Hoax

Berastagi-Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Medan Agoez Perdana menyatakan, bahwa dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) merupakan ‘ladang uang’ bagi pembuat berita Hoax.

Hal itu disampaikan Agoez Perdana ketika menjadi pembicara pada Media Gathering KPU Sumut, di Hotel Mikie Holiday Berastagi Kabupaten Karo.Senin(30/4/2018)

Agoez menyampaikan materi dengan judul ‘Media Sebagai Katalisator Anti Hoax dalam Pilkada,” menjelaskan biasanya berita Hoax itu menyudutkan satu pihak tertentu, kalau dalam Pilkada menyudutkan satu pasangan calon tertentu agar kredibilitasnya di tengah-tengah masyarakat menurun dan menguntung pasangan calon lainnya.

Darimana keuntungan bagi pembuat berita Hoax itu, Agoes mengungkapkan keuntunganya adalah ketika masyarakat banyak menklik berita Hoax yang ditampilkan tersebut biasanya terjadi di website, youtube dan media sosial lainnya.”

Melalui google adsens keuntungannya kalau saya perkirakan pendapatan pembuat berita hoaks itu pada musim Pilkada ini mencapai Rp20-Rp30 juta perbulan,” sebut Agoez.

Untuk Pilgubsu 2018 ini , Agoez mencatat kedua pasangan calon yakni Eramas dan Djoss juga menjadi korban berita hoaks dan itu menjadi viral di media sosial yang tujuannya adalah untuk menjatuhkan kredibilitas kedua pasangan calon itu di tengah-tengah masyarakat.”

Begitulah luar biasanya pengaruh dari berita Hoax tersebut sehingga kita sebagai jurnalis harus bisa menghindarinya atau paling tidak jangan itu menshare berita hoaks tersebut,” kata Agoes kembali.

Agoez mengajak para jurnalis agar menghindari berita Hoax sambil memberikan tips diantaranya adalah harus menganalisis sumber pemberitaan, nara sumber harus jelas dan kredibel nya.

Melihat disitus website pemberitaan yang berbeda, biasanya berita besar tidak hanya dimuat dalam satu situs pemberitaan saja, terkecuali kalau berita itu merupakan wawancara khusus.

“Banyak jurnalis yang terjebak dan ikut menyebarkan berita hoax karena kurang teliti dalam menganalisis sumber berita tersebut,” kata Agoez.

Sanksi untuk pembuat dan penyebar berita hoaks itu kata Agoez lagi ada terdapat di dalam UU No 19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang merupakan perubahan dari UU No 11/2008 dimana ancaman hukuman 4 tahun penjara.”

Meski hukuman dikurangi menjadi 4 tahun penjara namun kita sebagai jurnalis jangan lengah sebab biasanya penyidik dalam hal ini pihak kepolisian selalu mengaitkan dengan pasal lain (junto) sehingga hukuman bisa meningkat menjadi lebih dari 4 tahun dan penyidik bisa melakukan penahanan,” demikian Agoez.(Hry)

Bagikan berita ini

Mungkin Anda Menyukai