Polda Metro Jaya Bongkar Peredaran Obat Koplo di Tambora dan Babelan

TARGET24JAMNEWS.COM  |  JAKARTA  – Subdit I Indag Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya mengungkap peredaran obat-obatan keras (G) alias obat koplo di kawasan Tambora, Jakarta Barat dan Babelan, Bekasi.

Selain menyita 15.367 butir, polisi juga mengamankan dua tersangka pemilik toko yang tidak memiliki keahlian bidang farmasi dan tidak memiliki ijin edar dari BPOM-RI.

Kedua tersangka AB (41) dan AMW (23) sudah menjalankan usahanya selama 1 tahun. Obat keras racikannya dijual dengan harga Rp 6 ribu – 20 ribu ke beberapa remaja yang kemudian disalahgunakan untuk tawuran dan aksi kriminal lainnya. Dalam sehari mereka mendapatkan keuntungan Rp 1 juta.

“Sasaran mereka anak remaja. Keterangan korban, kalau minum pil koplo ini akan berani. Sebelum tawuran dia minum pil sehingga muncul daya tahan hingga berani,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, Selasa (18/9/2018).

Kasubdit Indag Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP Sutarmo mengatakan terungkapnya kasus ini setelah unitnya dipimpin Kompol Victor Ingkiriwang melakukan penelusuran usai menangkap penyalahguna obat daftar keras diawal bulan Agustus.

Penindakan dilakukan dengan mengintograsi tersangka, dan mendapati obat kerap didapat di Tambora dan Babelan, pencarian dilakukan. Satu butir obat tramadol ditemukan, keabsahan obat kemudian dilakukan dengan mengkroscek ke produsen obat.

Hasilnya, produsen obat mengakui bahwa tramadol itu bukan produksi miliknya. Terlebih semenjak penangkapan setahun lalu dirinya sudah tak lagi memproduksi. “Ini mengindikasikan bahwa obat itu palsu,” tegas AKBP Sutarmo.

Polisi sendiri hingga kini masih menelusuri sales yang diduga pemasok obat daftar G ke sejumlah apotik di Jakarta. Pencarian seksama dilakukan, lantaran Sales diketahui merupakan sales gelap yang tidak jelas identitas maupun perusahaanya. “Kami mencurigai dia yang kerap masukin obat. Selain itu obat yang dipasarkan tidak memiliki lisensi dari BPOM,” tutur AKBP Sutarmo.

Akibat perbuatannya, keduanya terancam hukuman penjara minimal lima tahun lantaran dianggap melanggar Undang undang kesehatan no 36 tahun 2009 dan Undang Undang Perlindungan Konsumen nomer 8 tahun 1999. (RED/HUM).

Bagikan berita ini