Tanggapan Gus Shiva’ul Haq Tentang Pemulangan WNI Eks ISIS Ke Tanah Air

 

TARGET24JAMNEWS.COM – OPINI PUBLIK

Seperti kita tahu bersama, bahwa pertahanan terakhir ISIS di Baghouz, Suriah, sudah jatuh diserang Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Dan dari hal tersebut, munculah sejumlah masalah baru, seperti salah satunya: menyangkut penanganan terhadap istri dan anak eks kombatan dan simpatisan ISIS yang berasal dari Indonesia.

Sejauh ini, seperti diberitakan dibeberapa media, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri memang belum menentukan sikap memulangkan mereka, atau dalam hal ini pemerintah masih membiarkan eks ISIS yang berasal dari Indonesia terkatung-katung. Pemerintah masih mengkaji langkah lanjutan yang akan dilakukan terhadap para istri dan anak eks kombatan dan simpatisan ISIS ini.

Saat pemerintah tengah mengkaji, muncul perdebatan apakah mereka (WNI eks ISIS) layak diterima atau ditolak. Isu ini muncul karena para istri dan anak eks kombatan dan simpatisan ISIS yang pergi meninggalkan Indonesia atas kemauan sendiri dan ada yang mengikuti suami mereka.

Di luar perdebatan tersebut, penulis rasa perlu adanya kekhawatiran bersama, apabila anak dan istri bekas kombatan dan simpatisan ISIS diperbolehkan pulang ke Indonesia. Mengingat Indonesia pernah kedatangan eks kombatan mujahidin Afghanistan yang kemudian berulah menjadi teroris Bom Bali.

Tidak bisa dipungkiri, adanya potensi bahaya apabila istri dan anak eks kombatan dan simpatisan ISIS ini pulang ke Indonesia. Mereka berpotensi mengembangkan sikap ekstrem sebagai bentuk dampak dari lingkungan sosial mereka saat berada di Suriah.

Hal-hal Yang Perlu Menjadi Pertimbangan

Yang pertama, kepulangan eks ISIS berpotensi memecah-belah kaum muslim di Indonesia: ISIS ialah suatu kelompok yang terbentuk atas nama agama islam namun tidak sesuai sama sekali dengan apa yang diajarkan islam. Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, membunuh tanpa alasan dan tanpa adanya sebuah dalil yang tepat atau sesuai. Namun lain halnya dengan ISIS yang ingin merubah kaum muslim agar mau patuh terhadap satu manusia yang disebut-sebut sebagai Khalifah umat muslim di seluruh dunia. Dengan adanya pemaksaan ini akan mencerai beraikan ikatan masyarakat islam di suatu negara, sehingga hal ini dapat memicu konflik bagi Indonesia.

Yang kedua, berpotensi memicu terjadinya kegiatan terorisme: Dengan adanya kelompok agama yang tidak jelas asal muasalnnya, jelas akan menimbulkan adanya pemikiran pemberontakan terhadap suatu sistem pemerintahan. Sejauh ini, ISIS secara tidak langsung telah mengajak banyak orang untuk mau bergabung dan menerima kebenaran yang mereka buat. Namun pada kenyataannya, apa yang mereka anggap sebagai sebuah kebenaran itu, tidaklah benar. Melainkan sebuah kekeliruan. Mengajak banyak orang untuk melawan pemerintah, dengan cara yang keliru, yakni terorisme.

Dan oleh karena itu, dengan adanya kelompok terorisme: akan membawa kerusakan yang cukup besar bagi negara, dan tentunya akan membawa kerusakan moral berbangsa dan bertanah air. Dengan begitu, masyarakat juga tidak akan lagi merasa aman maupun nyaman, dengan adanya kelompok terorisme yang bisa saja beraksi kapanpun mereka mau.

Yang ketiga, berpotensi merusak ideologi: Seperti yang kita tahu, ISIS memiliki ideologi yang tidak sesuai dengan negara kita. Mereka memaksakan kehendak pada umat muslim di seluruh dunia agar mau tunduk dan hormat kepada Khalifahnya. Mereka mengklaim jika khalifahnya tersebut merupakan seorang Khalifah bagi seluruh umat islam diseluruh dunia, sehingga kaum muslim di seluruh negara wajib patuh terhadapnya.

Tentu hal ini sangat tidak sesuai dengan ideologi negara kita. Bahkan di negara islam pun juga tidak setuju dengan ideologi buatan ISIS tersebut karena di nilai tidak sesuai dengan aturan tata negara di seluruh dunia.

Dan yang keempat, berpotensi melunturkan rasa nasionalisme: Sikap nasionalisme wajib dimiliki oleh setiap dari warga negara. Namun lain halnya dengan tujuan kelompok ISIS yang hendak melunturkan sikap atau rasa nasionalisme rakyat pada negaranya sendiri. Karena mereka menginginkan banyaknya pengikut. Kelompok ini dikenal sangat kejam dan bahkan rela melakukan apa saja demi mendapatkan banyaknya pengikut.

Oleh karena itu, terkait pemulangan WNI eks ISIS, pemerintah harus betul-betul bijak dalam mengambil keputusan: Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kita semua harapkan di dalam berbangsa maupun bernegara, untuk tercapainya rasa aman dan nyaman di dalam berbangsa maupun bernegara.

Rembang, 09 Februari 2020

Oleh Achmad Shiva’ul Haq Asjach | penulis adalah penggagas Suluk Ndalanan.

 

Bagikan berita ini