Wah, ternyata orang Indonesia malas berjalan kaki

Hal ini terungkap pada saat ilmuwan Amerika Serikat telah mengumpulkan data berskala dunia dari pengguna ponsel untuk melihat aktifitas seseorang. Hasilnya terhadap data tersebut menunjukkan rata-rata langkah manusia yaitu 4.961 setiap hari. Hongkong menempati posisi teratas dengan 6.880 langkah perhari sedangkan Indonesia sendiri berada di peringkat bawah dengan rata-rata 3.513 langkah perhari alias malas gerak.

Temuan ini juga mengungkapkan rincian menarik yaitu bisa membantu mengatasi obesitas. Hampir semua ponsel saat ini telah memiliki fasilitas accelerometer built-in yang mampu merekan langkah lalu para peneliti menggunakan data tersebut terhadap lebih dari 700.000 orang yang menggunakan aplikasi pemantauan tersebut.

“Penelitian ini 1.000 kali lebih besar daripada studi sebelumnya pada gerakan manusia,” ujar Scott Delp, seorang profesor bioteknologi dan salah satu ilmuwan peneliti, sebagaimana dilaporkan BBC, Rabu 12 Juli 2017.

“Sebelumnya telah ada beberapa survei kesehatan menarik dilakukan, tetapi penelitian baru kami menyediakan data dari lebih banyak negara, lebih banyak subjek, dan melacak aktivitas masyarakat secara berkelanjutan. Ini membuka pintu untuk cara-cara baru melakukan sains pada skala yang jauh lebih besar dari yang pernah kita lakukan sebelumnya,” ujarnya.

Temuan ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature dan penulis penelitian mengatakan hasilnya memberikan wawasan penting untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

Rata-rata jumlah langkah di sebuah negara tampaknya kurang penting terhadap tingkat obesitas, misalnya. Ramuan kuncinya adalah ketimpangan aktivitas. Semakin besar ketimpangan aktivitas, semakin tinggi tingkat obesitas.

Tim Althoff, salah satu ilmuwan peneliti, mengatakan: “Sebagai contoh, Swedia memiliki salah satu kesenjangan terkecil antara aktivitas orang kaya dan miskin, dan juga salah satu yang memiliki tingkat obesitas terendah.” Sementara Amerika Serikat dan Meksiko keduanya memiliki langkah rata-rata sama, tetapi AS memiliki ketimpangan aktivitas dan tingkat obesitas yang lebih tinggi.

BBC | ERWIN Z

Bagikan berita ini